Cuaca Riyadh sudah mulai panas (mulai masuk musim panas soalnya), cukup untuk membuat kepala jadi pusing kalau berlama-lama di luar. Mmmh... apalagi nanti saat puncak musim panas yang katanya bisa sampai 50 derajat Celcius? Tepatnya Jumat (10/2/12) kemarin sekitar jam 8 pagian, saya berdiri cukup lama depan toko buku Jarir* (dekat makhroj** 5 di Riyadh). Bukan karena habis belanja buku, (lagipula toko pada belum buka jam segitu) ,tapi sudah janjian dengan teman untuk bertemu dan kemudian bersama-sama berangkat ke istirahah***. Begitu bertemu dengan teman-teman, rasa pusing mulai terbayar tuntas dan terlupakan, mungkin karena pikiran sudah mulai teralihkan untuk membayangkan tempat yang akan dituju, (penasaran juga, maklum orang baru ini).
Alhamdulillah salah satu hari akhir pekan kali ini, bisa terisi dengan kegiatan untuk eksplorasi daerah baru di pinggiran kota Riyadh (terkhusus bagi saya) bersama dengan kurang lebih 10 orang-an teman lainnya. Bayangan saya, kita akan menuju gurun, tapi ternyata tidak. Tapi lumayan juga setidaknya dibilang ke semi gurun lah...hehe. Karena tempat yang kita tuju sepertinya daerah gurun yang mulai dibangun.
Mencari lokasi istirahah susah-susah gampang. Ketika mendekati lokasi jarak antara bangunan yang satu dengan yang lainnya cukup jarang-jarang, dan pada satu persimpangan sejauh mata memandang padang pasir semua, tapi sayang tujuan kita bukan ke sana kali ini. Hanya bisa memandang sebatas kaca mobil dalam waktu sesaat. (sekilas info: daratan di Riyadh relatif datar, bukan daerah perbukitan). Karena diantara kita belum ada yang pernah ke sana, jadi perlu telpon sana-sini dulu, disamping itu penjaga istirahah yang dihubungi, komunikasinya tidak pakai bahasa Indonesia (upss ngarep :p), maksudnya gak pakai bahasa inggris, dan bahasa Arabnya juga bukan bahasa Arab seperti yang dikuasai oleh salah seorang teman. Akhirnya setelah lebih kurang 1 jam keliling, alhamdulillah ketemu juga akhirnya istirahah yang di cari, lebih kurang 300 meter dari jalan raya :)
Saat sampai, kebutuhan mendasar mulai susah dikendalikan (lapar). Habis beres barang-barang, langsung sinsing lengan baju dan celana (gak segitunya :D) untuk fokus pada makan-makan! Diawali dengan bakar-bakar dulu, buat sate ala Madura. Kebetulan diantara kita ada yang berasal dari Madura, jadi ada juru ajar untuk bakar-bakarnya. Daya tahan lapar kita memang diuji (sebagian besar teman-teman pada belum sarapan-kalo saya pribadi kebetulan sudah), tak cukup dengan proses bakar membakar yang butuh waktu lama, ketika mau makan, harus menerima kenyataan bahwa nasi kurang memadai. Demi rasa sepenanggungan dan kebersamaan, nafsu makan yang sudah mulai susah ditahan, harus diatasi dengan kesabaran dulu, sampai nasi tambahan selesai dimasak agar semua bisa kebagian dan tentunya tidak kekurangan.
Bentuk istirahah berupa gedung yang dipagari tembok cukup tinggi yang bagian tengahnya berupa lapangan terbuka untuk kolam renang dan taman--ukurannya 30x30m mungkin. Sedangkan untuk ruang tertutup, satu dekat pintu masuk, untuk penjaga, satu lagi diseberang lapangan lengkap dengan kamar mandi, dapur dan ruang kumpul. Kebutuhan listrik dipenuhi dengan menggunakan mesin diesel, dan dirasa cukup memadai. Untuk tembok tinggi yang ada pada rumah-rumah umumnya disini, disamping untuk privasi yang lebih terjaga, mungkin juga sengaja dibuat sebagai pelindung dari badai pasir yang sering terjadi, seperti yang sempat kita dapati saat berada di istirahah, ketahuannya saat salah seorang teman buka pintu, terlihat banyak sekali pasir atau debu berkeliaran memenuhi udara di luar dan mulai masuk di bawa angin.
Setelah cap cip cus makanan, kita berangkat sholat Jumat ke Masjid yang lokasinya cukup jauh. Sama juga, di Masjid juga pakai mesin diesel. Teman nyeletuk, "Ini butuh berapa banyak liter minyak kalo semua pakai mesin diesel?". Saya langsung teringat akan celotehan salah seorang teman tentang negara kaya minyak ini, "Yah sepertinya disini memang biasa, wong kalo boleh nyuci mobil pakai minyak, mending minyak dari pada air". (Ya, salah satu sumber air untuk kebutuhan sehari-hari di Arab Saudi, berasal dari air laut yang diolah sedemikian rupa sehinga jadi air tawar dan tentunya untuk hal ini butuh biaya yang sangat besar, apalagi harus dialirkan ke daratan yang sangat luas. Untuk minyak karena berlimpah, jadi harganya relatif jauh lebih murah--dibanding Indonesia, dan juga kualitas yang dijual lebih baik, misal untuk bahan bakar mobil yang dijual, nilai oktan paling rendah 92 atau 93 kalo gak salah)
Suasana mesjid penuh sesak, sampai meluap ke luar. Sekitar pekarangan Masjid, juga penuh dengan mobil-mobil tipe jelajah (istilah saya, ada bak dan hampir semua sangat kotor kena pasir). Barangkali yang datang ke Masjid ini juga banyak pendatangnya dan bisa jadi orang sekitar pergi sholat bawa mobil masing-masing, karena kondisi jarak yang jauh dan cuaca yang panas, sehingga memakai mobil sepertinya pilihan terbaik.
Makan beres, sholat kelar, berikutnya kita isi dengan diskusi, canda, tawa, nasehat, curcol, ada rencana-rencana, dan lain sebagainya. Yah, waktu memang tak ada komprominya, melaju tanpa henti. Lain kata, saatnya kita harus pulang. Sampai di rumah capek, tapi berkesan. Semoga nanti bisa dilanjut lagi ke gurun yang sebenarnya, seperti salah satu wallpaper di Windows XP, dan ke tempat-tempat lainnya.
--
* Jarir adalah jaringan toko buku dan peralatan elektronik yang cukup terkenal di Arab Saudi. Dibanding yang lain harga memang relatif lebih mahal, tapi kualitas terjamin. (Begitu info yang saya dapat dari teman-teman di sini). Saya sendiri baru sekali belanja di sana.
** Makhroj. Secara bahasanya tempat keluar. Lebih populer dengan istilah exit, yang dimaksudkan untuk petunjuk pintu masuk/keluar ke/dari Riyadh. (Jadi jika mencari alamat, disamping menggunakan nama jalan sebagai petunjuk, dengan menyebutkan dekat exit mana, pada umumnya orang sudah tahu). Info tambahan, di Riyadh transportasi umum dalam kota sangat jarang, kecuali taksi.
*** Istirahah. Mungkin semacam villa, digunakan misal untuk acara liburan dan sejenisnya
Alhamdulillah salah satu hari akhir pekan kali ini, bisa terisi dengan kegiatan untuk eksplorasi daerah baru di pinggiran kota Riyadh (terkhusus bagi saya) bersama dengan kurang lebih 10 orang-an teman lainnya. Bayangan saya, kita akan menuju gurun, tapi ternyata tidak. Tapi lumayan juga setidaknya dibilang ke semi gurun lah...hehe. Karena tempat yang kita tuju sepertinya daerah gurun yang mulai dibangun.
Mencari lokasi istirahah susah-susah gampang. Ketika mendekati lokasi jarak antara bangunan yang satu dengan yang lainnya cukup jarang-jarang, dan pada satu persimpangan sejauh mata memandang padang pasir semua, tapi sayang tujuan kita bukan ke sana kali ini. Hanya bisa memandang sebatas kaca mobil dalam waktu sesaat. (sekilas info: daratan di Riyadh relatif datar, bukan daerah perbukitan). Karena diantara kita belum ada yang pernah ke sana, jadi perlu telpon sana-sini dulu, disamping itu penjaga istirahah yang dihubungi, komunikasinya tidak pakai bahasa Indonesia (upss ngarep :p), maksudnya gak pakai bahasa inggris, dan bahasa Arabnya juga bukan bahasa Arab seperti yang dikuasai oleh salah seorang teman. Akhirnya setelah lebih kurang 1 jam keliling, alhamdulillah ketemu juga akhirnya istirahah yang di cari, lebih kurang 300 meter dari jalan raya :)
Saat sampai, kebutuhan mendasar mulai susah dikendalikan (lapar). Habis beres barang-barang, langsung sinsing lengan baju dan celana (gak segitunya :D) untuk fokus pada makan-makan! Diawali dengan bakar-bakar dulu, buat sate ala Madura. Kebetulan diantara kita ada yang berasal dari Madura, jadi ada juru ajar untuk bakar-bakarnya. Daya tahan lapar kita memang diuji (sebagian besar teman-teman pada belum sarapan-kalo saya pribadi kebetulan sudah), tak cukup dengan proses bakar membakar yang butuh waktu lama, ketika mau makan, harus menerima kenyataan bahwa nasi kurang memadai. Demi rasa sepenanggungan dan kebersamaan, nafsu makan yang sudah mulai susah ditahan, harus diatasi dengan kesabaran dulu, sampai nasi tambahan selesai dimasak agar semua bisa kebagian dan tentunya tidak kekurangan.
Bentuk istirahah berupa gedung yang dipagari tembok cukup tinggi yang bagian tengahnya berupa lapangan terbuka untuk kolam renang dan taman--ukurannya 30x30m mungkin. Sedangkan untuk ruang tertutup, satu dekat pintu masuk, untuk penjaga, satu lagi diseberang lapangan lengkap dengan kamar mandi, dapur dan ruang kumpul. Kebutuhan listrik dipenuhi dengan menggunakan mesin diesel, dan dirasa cukup memadai. Untuk tembok tinggi yang ada pada rumah-rumah umumnya disini, disamping untuk privasi yang lebih terjaga, mungkin juga sengaja dibuat sebagai pelindung dari badai pasir yang sering terjadi, seperti yang sempat kita dapati saat berada di istirahah, ketahuannya saat salah seorang teman buka pintu, terlihat banyak sekali pasir atau debu berkeliaran memenuhi udara di luar dan mulai masuk di bawa angin.
Setelah cap cip cus makanan, kita berangkat sholat Jumat ke Masjid yang lokasinya cukup jauh. Sama juga, di Masjid juga pakai mesin diesel. Teman nyeletuk, "Ini butuh berapa banyak liter minyak kalo semua pakai mesin diesel?". Saya langsung teringat akan celotehan salah seorang teman tentang negara kaya minyak ini, "Yah sepertinya disini memang biasa, wong kalo boleh nyuci mobil pakai minyak, mending minyak dari pada air". (Ya, salah satu sumber air untuk kebutuhan sehari-hari di Arab Saudi, berasal dari air laut yang diolah sedemikian rupa sehinga jadi air tawar dan tentunya untuk hal ini butuh biaya yang sangat besar, apalagi harus dialirkan ke daratan yang sangat luas. Untuk minyak karena berlimpah, jadi harganya relatif jauh lebih murah--dibanding Indonesia, dan juga kualitas yang dijual lebih baik, misal untuk bahan bakar mobil yang dijual, nilai oktan paling rendah 92 atau 93 kalo gak salah)
Suasana mesjid penuh sesak, sampai meluap ke luar. Sekitar pekarangan Masjid, juga penuh dengan mobil-mobil tipe jelajah (istilah saya, ada bak dan hampir semua sangat kotor kena pasir). Barangkali yang datang ke Masjid ini juga banyak pendatangnya dan bisa jadi orang sekitar pergi sholat bawa mobil masing-masing, karena kondisi jarak yang jauh dan cuaca yang panas, sehingga memakai mobil sepertinya pilihan terbaik.
Makan beres, sholat kelar, berikutnya kita isi dengan diskusi, canda, tawa, nasehat, curcol, ada rencana-rencana, dan lain sebagainya. Yah, waktu memang tak ada komprominya, melaju tanpa henti. Lain kata, saatnya kita harus pulang. Sampai di rumah capek, tapi berkesan. Semoga nanti bisa dilanjut lagi ke gurun yang sebenarnya, seperti salah satu wallpaper di Windows XP, dan ke tempat-tempat lainnya.
--
* Jarir adalah jaringan toko buku dan peralatan elektronik yang cukup terkenal di Arab Saudi. Dibanding yang lain harga memang relatif lebih mahal, tapi kualitas terjamin. (Begitu info yang saya dapat dari teman-teman di sini). Saya sendiri baru sekali belanja di sana.
** Makhroj. Secara bahasanya tempat keluar. Lebih populer dengan istilah exit, yang dimaksudkan untuk petunjuk pintu masuk/keluar ke/dari Riyadh. (Jadi jika mencari alamat, disamping menggunakan nama jalan sebagai petunjuk, dengan menyebutkan dekat exit mana, pada umumnya orang sudah tahu). Info tambahan, di Riyadh transportasi umum dalam kota sangat jarang, kecuali taksi.
*** Istirahah. Mungkin semacam villa, digunakan misal untuk acara liburan dan sejenisnya