Senin, 13 Februari 2012

Riyadh (lagi): Istirahah

Cuaca Riyadh sudah mulai panas (mulai masuk musim panas soalnya), cukup untuk membuat kepala jadi pusing kalau berlama-lama di luar. Mmmh... apalagi nanti saat puncak musim panas yang katanya bisa sampai 50 derajat Celcius? Tepatnya Jumat (10/2/12) kemarin sekitar jam 8 pagian, saya berdiri cukup lama depan toko buku Jarir* (dekat makhroj** 5 di Riyadh). Bukan karena habis belanja buku, (lagipula toko pada belum buka jam segitu) ,tapi sudah janjian dengan teman untuk bertemu dan kemudian bersama-sama berangkat ke istirahah***. Begitu bertemu dengan  teman-teman, rasa pusing mulai terbayar tuntas dan terlupakan, mungkin karena pikiran sudah mulai teralihkan untuk membayangkan tempat yang akan dituju, (penasaran juga, maklum orang baru ini).


Alhamdulillah salah satu hari akhir pekan kali ini, bisa terisi dengan kegiatan untuk eksplorasi daerah baru di pinggiran kota Riyadh (terkhusus bagi saya) bersama dengan kurang lebih 10 orang-an teman lainnya. Bayangan saya, kita akan menuju gurun, tapi ternyata tidak. Tapi lumayan juga setidaknya dibilang ke semi gurun lah...hehe. Karena tempat yang kita tuju sepertinya daerah gurun yang mulai dibangun.


Mencari lokasi istirahah susah-susah gampang. Ketika mendekati lokasi jarak antara bangunan yang satu dengan yang lainnya cukup jarang-jarang, dan pada satu persimpangan sejauh mata memandang padang pasir semua, tapi sayang tujuan kita bukan ke sana kali ini. Hanya bisa memandang sebatas kaca mobil dalam waktu sesaat. (sekilas info: daratan di Riyadh relatif datar, bukan daerah perbukitan). Karena diantara kita belum ada yang pernah ke sana, jadi perlu telpon sana-sini dulu, disamping itu penjaga istirahah yang dihubungi, komunikasinya tidak pakai bahasa Indonesia (upss ngarep :p), maksudnya gak pakai bahasa inggris, dan bahasa Arabnya juga bukan bahasa Arab seperti yang dikuasai oleh salah seorang teman. Akhirnya setelah lebih kurang 1 jam keliling, alhamdulillah ketemu juga akhirnya istirahah yang di cari, lebih kurang 300 meter dari jalan raya :)

Saat sampai, kebutuhan mendasar mulai susah dikendalikan (lapar). Habis beres barang-barang, langsung sinsing lengan baju dan celana (gak segitunya :D) untuk fokus pada makan-makan! Diawali dengan bakar-bakar dulu, buat sate ala Madura. Kebetulan diantara kita ada yang berasal dari Madura, jadi ada juru ajar untuk bakar-bakarnya. Daya tahan lapar kita memang diuji (sebagian besar teman-teman pada belum sarapan-kalo saya pribadi kebetulan sudah), tak cukup dengan proses bakar membakar yang butuh waktu lama, ketika mau makan, harus menerima kenyataan bahwa nasi kurang memadai. Demi rasa sepenanggungan dan kebersamaan, nafsu makan yang sudah mulai susah ditahan, harus diatasi dengan kesabaran dulu, sampai nasi tambahan selesai dimasak agar semua bisa kebagian dan tentunya tidak kekurangan.


Bentuk istirahah berupa gedung yang dipagari tembok cukup tinggi yang bagian tengahnya berupa lapangan terbuka untuk kolam renang dan taman--ukurannya 30x30m mungkin. Sedangkan untuk ruang tertutup, satu dekat pintu masuk, untuk penjaga, satu lagi diseberang lapangan lengkap dengan kamar mandi, dapur dan ruang kumpul. Kebutuhan listrik dipenuhi dengan menggunakan mesin diesel, dan dirasa cukup memadai. Untuk tembok tinggi yang ada pada rumah-rumah umumnya disini, disamping untuk privasi yang lebih terjaga, mungkin juga sengaja dibuat sebagai pelindung dari badai pasir yang sering terjadi, seperti yang sempat kita dapati saat berada di istirahah, ketahuannya saat salah seorang teman buka pintu, terlihat banyak sekali pasir atau debu berkeliaran memenuhi udara di luar dan mulai masuk di bawa angin. 


Setelah cap cip cus makanan, kita berangkat sholat Jumat ke Masjid yang lokasinya cukup jauh. Sama juga, di Masjid juga pakai mesin diesel. Teman nyeletuk, "Ini butuh berapa banyak liter minyak kalo semua pakai mesin diesel?". Saya langsung teringat akan celotehan salah seorang teman tentang negara kaya minyak ini, "Yah sepertinya disini memang biasa, wong kalo boleh nyuci mobil pakai minyak, mending minyak dari pada air". (Ya, salah satu sumber air untuk kebutuhan sehari-hari di Arab Saudi, berasal dari air laut yang diolah sedemikian rupa sehinga jadi air tawar dan tentunya untuk hal ini butuh biaya yang sangat besar, apalagi harus dialirkan ke daratan yang sangat luas. Untuk minyak karena berlimpah, jadi harganya relatif jauh lebih murah--dibanding Indonesia, dan juga kualitas yang dijual lebih baik, misal untuk bahan bakar mobil yang dijual, nilai oktan paling rendah 92 atau 93 kalo gak salah)


Suasana mesjid penuh sesak, sampai meluap ke luar. Sekitar pekarangan Masjid, juga penuh dengan mobil-mobil tipe jelajah (istilah saya, ada bak dan hampir semua sangat kotor kena pasir). Barangkali yang datang ke Masjid ini juga banyak pendatangnya dan bisa jadi orang sekitar pergi sholat bawa mobil masing-masing, karena kondisi jarak yang jauh dan cuaca yang panas, sehingga memakai mobil sepertinya pilihan terbaik.

Makan beres, sholat kelar, berikutnya kita isi dengan diskusi, canda, tawa, nasehat, curcol, ada rencana-rencana, dan lain sebagainya. Yah, waktu memang tak ada komprominya, melaju tanpa henti. Lain kata, saatnya kita harus pulang. Sampai di rumah capek, tapi berkesan. Semoga nanti bisa dilanjut lagi ke gurun yang sebenarnya, seperti salah satu wallpaper di Windows XP, dan ke tempat-tempat lainnya. 

--


* Jarir adalah jaringan toko buku dan peralatan elektronik yang cukup terkenal di Arab Saudi. Dibanding yang lain harga memang relatif lebih mahal, tapi kualitas terjamin. (Begitu info yang saya dapat dari teman-teman di sini). Saya sendiri baru sekali belanja di sana.

** Makhroj. Secara bahasanya tempat keluar. Lebih populer dengan istilah exit, yang dimaksudkan untuk petunjuk pintu masuk/keluar ke/dari Riyadh. (Jadi jika mencari alamat, disamping menggunakan nama jalan sebagai petunjuk, dengan menyebutkan dekat exit mana, pada umumnya orang sudah tahu). Info tambahan, di Riyadh transportasi umum dalam kota sangat jarang, kecuali taksi. 

*** Istirahah. Mungkin semacam villa, digunakan misal untuk acara liburan dan sejenisnya

Minggu, 22 Januari 2012

Belajar Bersatu oleh Ust. Anis Matta


Ketika kekalahan, tragedi, kelaparan, dan pembantaian mendera jasad Islam kita, kita selalu saja menyoal dua hal: konspirasi Barat dan lemahnya persatuan umat Islam. Tangan-tangan syetan Yahudi seakan merambah di balik setiap musibah yang menimpa kita. Dan kita selalu tak sanggup membendung itu, karena persatuan kita lemah.

Mari kita menyoal persatuan, sejenak, dari sisi lain. Ada banyak faktor yang dapat mempersatukan kita: aqidah, sejarah dan bahasa. Tapi semua faktor tadi tidak berfungsi efektif menyatukan kita. Sementara itu, ada banyak faktor yang sering mengoyak persatuan kita. Misalnya, kebodohan, ashabiyah, ambisi, dan konspirasi dari pihak luar.

Mungkin itu yang sering kita dengar setiap kali menyorot masalah persatuan. Tapi di sisi lain yang sebenarnya mungkin teramat remeh, ingin ditampilkan di sini. Persatuan ternyata merupakan refleksi dari ’suasana jiwa’. Ia bukan sekedar konsensus bersama. Ia, sekali lagi, adalah refleksi dari ’suasana jiwa’. Persatuan hanya bisa tercipta di tengah suasana jiwa tertentu dan tak akan terwujud dalam suasana jiwa yang lain. Suasana jiwa yang memungkinkan terciptanya persatuan, harus ada pada skala individu dan jamaah.

Tingkatan ukhuwah (maratibul ukhuwwah) yang disebut Rasulullah SAW, mulai dari salamatush shadr hingga itsar,semuanya mengacu pada suasana jiwa. Jiwa yang dapat bersatu adalah jiwa yang memiliki watak ’permadani’. Ia dapat diduduki oleh yang kecil dan yang besar, alim dan awam, remaja atau dewasa. Ia adalah jiwa yang besar, yang dapat ’merangkul’ dan ’menerima’ semua jenis watak manusia. Ia adalah jiwa yang digejolaki oleh keinginan kuat untuk memberi, memperhatikan, merawat, mengembangkan, membahagiakan, dan mencintai.

Jiwa seperti itu sepenuhnya terbebas dari mimpi buruk ’kemahahebatan’, ’kamahatahuan’, ’keserbabisaan’. Ia juga terbebas dari ketidakmampuan untuk menghargai, menilai, dan mengetahui segi-segi positif dari karya dan kepribadian orang lain.

Jiwa seperti itu sepenuhnya merdeka dari ’narsisme’ individu atau kelompok. Maksudnya bahwa ia tidak mengukur kebaikan orang lain dari kadar manfaat yang ia peroleh dari orang itu. Tapi ia lebih melihat manfaat apa yang dapat ia berikan kepada orang tersebut. Ia juga tidak mengukur kebenaran atau keberhasilan seseorang atau kelompok berdasarkan apa yang ia ’inginkan’ dari orang atau kelompok tersebut.

Salah satu kehebatan tarbiyah Rasulullah SAW, bahwa beliau berhasil melahirkan dan mengumpulkan manusia-manusia ’besar’ tanpa satupun di antara mereka yang merasa ’terkalahkan’ oleh yang lain. Setiap mereka tidak berpikir bagaimana menjadi ’lebih besar’ dari yang lain, lebih dari mereka berpikir bagaimana mengoptimalisasikan seluruh potensi yang ada pada dirinya dan mengadopsi sebanyak mungkin ’keistimewaan’ yang ada pada diri orang lain.

Umar bin Khattab, mungkin merupakan contoh dari sahabat Rasulullah SAW yang dapat memadukan hampir semua prestasi puncak dalam bidang ruhiyah, jihad, qiyadah, akhlak, dan lainnya. Tapi semua kehebatan itu sama sekali tidak ’menghalangi’ beliau untuk berambisi menjadi ’sehelai rambut dalam dada Abu Bakar’. Sebuah wujud keterlepasan penuh dari mimpi buruk ’kemahahebatan’.

***

Artikel dicopy paste dari sebuah milis yang dishare oleh saudara Harry Firdaus.

Minggu, 15 Januari 2012

Riyadh, Gado-gado Lewat 3 Jumat

Riyadh memang banyak sekali masjidnya, besar-besar. Salah seorang temanku pernah berujar bahwa musholla di Riyadh seperti masjid di Indonesia. Sepanjang pengamatanku, disamping besar di dalamnya juga terjaga kebersihannya. Dan pada umumnya masjid, banyak disediakan Al Qur'an, cuma bedanya dengan kulihat di Indonesia, dalam selang beberapa shaff di sediakan rak-rak kecil tempat Al Qur'an. Selain itu juga ada senderan sofa dan kursi-kursi bagi yang membutuhkan.

Ada yang cukup unik kutemukan di sini, jeda waktu antara adzan dan iqamah cukup panjang (terkadang bisa sampai 30 menitan saat shalat Shubuh dan Isya), bagi yang datang lebih awal banyak mengisinya dengan membaca Al Qur'an dan "cukup membantu" bagi yang datang telat, karena tetap kebagian sholat berjama'ah. Pak Ikhwan, (senior ku yang lebih dulu berada di sini) berkata, "di sini tak heran atau menjadi hal biasa jika orang-orang pada umumnya sebulan sekali bisa khatam Al Qur'an. Karena jika datang shalat tepat waktu, dan setiap jeda waktu adzan-iqamah dimanfaatkan untuk tilawah, sehari bisa dapat satu juz". Cuma terkadang butuh perjuangan tersendiri bisa datang sholat tepat waktu, "wong masih lama iqamat kok, santai dulu aja!", bisik setan semena-mena merasuk ke dalam pikiran. 

***

Sudah 3 jumat berada di sini, cuaca agak sulit ditebak arahnya. Sebenarnya kalo dari sisi musim, sekarang memang masih musih dingin harusnya. Terkadang pagi-pagi saat shubuh dinginnya wuih,,,kebangetan (patokannya untuk ukuran orang cukup lama tinggal di daerah tropis seperti saya), tapi pernah juga saat shubuh biasa saja, eh tiba-tiba pagi hari saat matahari sudah terbit justru lebih dingin, apalagi kalau ditambah angin. Bagaimana ceritanya kalau tinggal di daerah dekat kutub? 

***

Selama di Riyadh sini, belum banyak berinteraksi dengan orang Arab Saudi asli. Kebanyakan malah pendatang. Yang ngurusin tempat tinggal yang disewa, orang Sudan, Bangladesh. Makan siang belanja di warung Turki, di kantin yang jagain sepertinya orang Philipina, warung Thailand, pernah juga makan di warung Indonesia-terasa nikmat sekali euy, seperti sudah lama sekali tidak makan masakan Indonesia- (tapi lumayan jauh lokasinya dari kantor, jadi gak bisa sering-sering, alhamdulillah pak Haris sering ngasih tompangan kalau pergi makan siang). Selama naik taxi, ketemunya sama orang Bangladesh, Afghanistan. Belanja di "bakola" (semacam toko kelontong di Indonesia), ketemu orang Pakistan, India. Terkait kerja, dengan orang Mesir, Yordania, Malaysia, Philipina. Tentunya orang Arab Saudi juga banyak bertemu (tapi masih sangat jarang berinteraksi saja), ada banyak orang China juga di sini. Alhamdulillahnya, di sini juga banyak ketemu orang Indonesia, ada tempat untuk melampiaskan kebutuhan lidah dan pikiran untuk memakai "bahasa"...hehehe. Dan pastinya, selama di sini banyak dibantuin orang Indonesia. Ngarahin, menjelaskan situasi kondisi, sangat membantu dalam kemudahan adaptasi.

Bicara Indonesia, di sini ada juga produk Indonesia. Pada bisa nebak gak? Mmmh...satu... Indomie, dua... Sambal Indofood/ABC... tiga... sandal Bata ...empat... Mobil Innova (eh, ini buatan Indonesia kan? Atau minimal dirakit di Indonesia kan? CMIIW) ... lima ... tahu, tempe (kalau yang ini memang di produksi di Saudi oleh orang Indonesia asli). Setidaknya itu yang baru dilihat langsung. Sekecil apa pun itu, saat melihat produk negeri sendiri di negeri orang, entah kenapa ada perasaan entah senang atau bangga...(benar lho, *semoga tidak terkesan lebay*). Contoh nya tadi, saat mau memasang sepatu setelah sholat, kebetulan lihat sandal Bata (wuidih... tapi gak tahu juga apakah orang Indonesia yang memakainya?!!!). Semoga semakin banyak lagi berbagai produk buatan Indonesia asli beredar dimana-mana di seluruh dunia, memang harus dibalik, "capek" juga masyarakat negara Indonesia dijejali berbagai produk dari negara lain, bahkan untuk produk yang seharusnya bisa dibuat atau dihasilkan oleh Indonesia sendiri. Tidak usah jauh-jauh,  beras, gula, harusnya kita Indonesia tidak meng-impor lagi? Apalagi kalau impor garam, ikan? T*RL*L*! Peringatan buat saya juga khususnya. Tuh, jadi ngelantur kemana-mana, mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.

***

Dicukupkan dulu curcolnya, "nasi putih nasi kebuli, tidak bisa langsung dan terus putih makanya harus rutin dicuci".. Saatnya mencuci;)

Jumat, 06 Januari 2012

Riyadh, baru seminggu...

Riyadh adalah kota pertama di luar Indonesia yang kukunjungi. Dulu sempat mau jadi ke kota lain, sampai visa udah kelar juga, tapi karena satu lain hal perjalanannya gak jadi. Balik ke Riyadh, ibukotanya Kerajaan Arab Saudi (semua orang juga tahu kali :D), kesan pertamanya: Dingin! Ya datangnya memang pas lagi musim dingin.

Keluar dari pesawat, pemeriksaan imigrasi (ini bisa jadi cerita sendiri..), ambil bagasi. Alhamdulillah akhirnya bisa juga keluar dari bandara dengan lancar dan gak ribet. Sampainya malam waktu Riyadh, dijemput oleh team Leader tempat bekerja (Mohamed Mahmoud Radwan, orang Mesir) dan diantar lihat-lihat alternatif apartemen yang bisa kutempati nanti selama di Riyadh. Akhirnya malam pertama nginap di apartemen mas Wildan Fakhri, senior yang juga kerja di Riyadh.

Sekarang lebih kurang sudah seminggu di Riyadh, ingin bercerita panjang kali lebar pangkat tinggi. Mari dimulai dari blog ini.

Perhatian dalam pengalaman yang masih baru sebentar di sini tertuju pada jalanan, mobil, rumah, dan makanan. Pengendara mobil di Riyadh betul-betul termanjakan sepertinya. Jalanan yang lebar-lebar dan mulus, bahkan jalan dalam kompleks perumahan pun lebarnya bisa dimuati empat mobil (bisa lebih). Jalanan OK, bagaimana dengan kendaraan yang lalu lalang di atasnya? Mmmh, setali tiga uang (eh ada yang tahu asal pepatah ini dari daerah mana???!). Mobil-mobil keren, dan banyak diantaranya juga belum pernah kulihat di Indonesia menjadi pemandangan biasa di sini. Kesan awal, pantas saja orang disini kan kaya-kaya???! Menurut teman ku, tidak juga sebenarnya, salah satu faktor kenapa gampangnya menemukan mobil-mobil mewah banyak sekali berseliweran di jalanan kayak mainan adalah, karena memang negara Kerajaan Arab Saudi menetapkan aturan bebas pajak. Jadilah, harga mobil yang jika di Indonesia mahal gak karuan, di sini jauh lebih miring.

Sekarang jalanan OK, mobil OK! Satu hal yang membuatku harus waspada setiap saat adalah jalan kaki, terutama saat menyeberang jalan. (Hehe,,,maklum yang sehari-hari P3K, pejalan kaki ke kantor). Berdasarkan pengalaman, situasi di sini belum begitu bersahabat bagi pejalan kaki. Pengendara membawa laju mobil seperti balapan. Sulit untuk membuat kondisi, kita melambaikan tangan terus kemudian pengendara mempersilahkan kita menyeberang jalan. Serius sangat sulit! Yang ada kita harus bersabar menunggu mobil lewat, kira-kira sampai sudah benar-benar aman (kalaupun ada mobil, jaraknya jauh), baru berani menyeberang jalan.

Rumah! Sepanjang perjalanan dari bandara sampai ke apartemen, kemudian pulang balik apartemen-kantor, masjid, jalan-jalan dibawa teman, kalau menemui rumah, ciri utamanya adalah pagarnya tinggi, sangat tertutup! (Kalau parkir mobil kebanyakan di jalan depan rumah saja, jarang yang di garasi, pertama barangkali kondisi lingkungan relatif aman, kedua mobil mereka juga banyak jadi gak muat garasi-- eits ini hanya tebakan ku saja lho.) Kembali lagi ke Rumah yang super tertutup, hal ini sempat ditanyakan ke Mohamed. Dan jawabannya adalah karena orang di sini sangat menjaga privasi mereka. Ooo begitu ya.

Terakhir terkait makanan. Tulisan ini tidak akan bercerita tentang jenis, ragam, resep, bumbu makanan, tapi lebih tepatnya porsi makanan. Beuh,,,,, rata-rata porsinya ampun-ampunan. Beli nasi pakai ayam, jangan terlalu berharap ketemu satu potong paha/satu potong dada berikut sepiring nasi. Yang ada setengah ekor ayam plus nasi satu cambung. Ayamnya gede-gede pula. Tidak,,, tidak,,, itu bukan buat berempat tapi satu orang. Pikirku, "wah sayang banget kalau makan langsung di tempat". Beberapa kali makan bareng teman-teman Indonesia di sini saat makan siang, memang rata-rata kami tidak bisa menghabiskan. Pantas juga ya, orang Arab badannya gede-gede :) Sehingga taktik ku adalah kalau hari libur weekend (disini Kamis, Jumat liburnya) makannya dibungkus saja, disamping gak mubazir, lumayan juga buat penghematan. Jadi, bisa buat 2-3 kali makan. Kata teman, dia malah bisa sampai 4 kali makan tapi belum habis juga (tergantung orangnya hihi).

Ok deh segitu dulu ceritanya, kapan-kapan insyaAllah disambung lagi. Mohon didoakan juga, disamping mencari rezeki, semoga bisa bertambah pengalaman, ilmu yang berharga yang bermanfaat. Dan yang terpenting senantiasa bisa berusaha meluruskan niat berharap ridha Allah. Senantiasa dalam lindungan Allah. Lagi pula tujuan tempat utama yang sangat ingin dikunjungi belum terwujud :)

Bismillaah, rabbisy rahli shadrii wa yassirlii amrii wahlul 'uqdatam millisaani yafqahuu qauli

Sabtu, 19 November 2011

K.E.L.A.M.A.A.N! T.E.L.A.T!


Setiap pulang kantor perjalanan melalui jalur yang biasanya saya ambil untuk pulang ke rumah membutuhkan dua kali naik kendaraan umum: satu angkot, satu lagi metro mini. Masing-masing dengan ongkos 2000 rupiah. Yah, hal-hal yang saya alami selama beberapa bulan terakhir dalam rutinitas pulang pergi kantor dengan dua jenis kendaraan umum ini memberikan kesan dan pengalaman tersendiri. Ada banyak kisah dan cerita disana. Namun, khusus untuk kisah hari ini spesial akan saya luapkan dalam bentuk tulisan ini.

Kejadian berawal dari seorang anak perempuan, katakanlah namanya Nona (menurut perkiraan saya adalah seorang mahasiswi) naik metro mini kurang lebih disaat saya sudah melewati setengah perjalanan menuju rumah. Nona mengambil duduk di sebelah saya. Barangkali karena kursi yang saya duduki masih kosong (buat yang belum tahu metro mini: satu kursi untuk 2 orang), cukup dekat dengan pintu masuk, ya Nona gak perlu capek atau repot untuk memilih kursi yang lain. Wajar-wajar saja.

Seperti biasa, kondektur akan menagih langsung ongkos kepada penumpang yang baru naik, tidak terkecuali kepada Nona. Di tangannya sudah tersedia sebuah kepingan seribu, dan segera di serahkan ke kondektur. Kondektur masih menunggu karena masih kurang. Nona meraba sakunya, mencari-cari di tas, di tempat pulpen dan pensil, selanjutnya di dalam buku, hasilnya uang tetap tidak ditemukan. Nah, dari sinilah perhatian saya mulai fokus teralih kepada si Nona ini. Si Nona melihat saya, dan saya balas dengan memberikan anggukan, sebagai tanda (“ok akan saya bantu”, jawab saya dalam hati, karena saya simpulkan dia memang sedang butuh bantuan). Saya raba saku, ternyata dompet tidak ditemukan. Teringat tadi sempat dimasukkan saku tas, setelah dibuka , benar dompet ada di dalam saku tas. Saat mengambil dompet, tiba-tiba ada suara seorang Bapak (saya misalkan namanya Pak Khoir) persis duduk di belakang saya (yang baru juga saya sadari), sambil menyodorkan uang mengatakan kepada Nona, “pakai ini saja”. Melihat saya yang masih membuka dompet, dan Pak Khoir menawarkan terus uang kehadapan dirinya, Nona akhirnya mengambil uang Pak Khoir, tidak lupa mengucapkan terima kasih dan memberikannya ke kondektur untuk menutupi kekurangan ongkos sebesar seribu tadi.

Tidak berhenti disitu, ternyata uang dari Pak Khoir tadi ada kembaliannya beberapa lembar uang kertas—saya tidak perhatikan nominalnya. Nona yang menerima dari kondektur langsung memberikannya pada Pak Khoir sambil mengucapkan terima kasih lagi. Pak Khoir bilang, “gak usah neng, bawa saja buat ongkos di jalan”, setelah saling “tawar menawar”, akhirnya Nona menerima uang dan kembali mengucapkan terima kasih banyak.

Setelah melihat kejadian tersebut, pikiran dan perasaan saya campur aduk. “Alhamdulillah ada orang baik”, gumam hati saya. Selain senang, saya juga sedih dan menyesal. Sungguh disayangkan, saya K.E.L.A.M.A.A.N!  T.E.L.A.T! Pak Khoir lebih responsive, memiliki sensitivitas menolong lebih baik dan telah bergerak lebih cepat menyambut peluang kebaikan. Dan tidak sampai di situ saja, Pak Khoir juga memberikan uang yang nominal nya lebih besar dari kekurangan yang dimiliki Nona dan kemudian menyerahkan kembaliannya buat sisa perjalananan Nona nanti.

Alangkah indahnya kisah ini bagi saya. Mungkin karena mengalami langsung. Pak Khoir adalah salah satu inspirasi nyata, dan secara tidak langsung memberikan “pelajaran” berharga bagi saya dan barangkali juga kepada Nona. Kondektur “yang kelihatan luarnya sangat slengek an itu” pun sangat patut diberikan apresiasi, karena tidak memaksa apalagi memarahi si Nona. Walaupun tadi, katakanlah Nona tidak dapat membayar sisa kekurangan ongkosnya, saya pikir (dan simpulkan dari sikap kondekturnya tadi), Nona tetap akan dipersilahkan untuk duduk “manis” (alias tidak di usir) hingga sampai di tujuannya.

Terima kasih untuk Pak Khoir, sungguh terpuji sikapmu. Semoga Allah yang Maha Mengetahui memberikan balasan terbaik untuk dirimu.

~~~

“…Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan . Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS: Al Baqaroh [2]: 148)

“…maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu persilisihkan.” (QS: Al Maidah [5]: 48)