Senin, 28 Februari 2011

Hidup#2: Hidup Layaknya Mimpi

Bismillah,

Pelatihan MDA (Manajemen Dar Al Akhirat) insyaAllah sangat dibutuhkan terutama untuk melecut kembali kesadaran tentang siapa kita sebenarnya, apa yang sedang diperjuangkan, tantangan apa yang bahkan sering terabaikan dan mau dibawa kemana hidup ini, kita diingatkan untuk hidup ber-visi akhirat tanpa melupakan kehidupan dunia. Materi training merujuk pada ayat-ayat AlQur'an, Hadits, kata-kata hikmah dari para ulama terdahulu.

Alhamdulillah, cerita di bawah berikut terinsipirasi dari training MDA yang diikuti, semoga ada manfaatnya.

***

Hidup Layaknya Mimpi

Hidup layaknya mimpi. Begitu kiranya perumpamaan yang di berikan Ust. Jumharuddin Lc. dalam salah satu sesi pelatihan MDA (a.k.a Wisata Kampung Akhirat). Ketika kita sedang bermimpi, kita berada atau merasakan seolah-olah itu nyata. Katakanlah kita mengalami mimpi sedang dikejar-kejar sama binatang buas, kita berlari sampai mengeluarkan keringat atau mungkin berusaha sembunyi. Merasakan kekhawatiran jika di mangsa binatang buas, dan berbagai perasaan atau sensasi lainnya ketika mengalami mimpi tersebut. Ketika terbangun, "Wah, syukurlah hanya mimpi", gumam hati. Atau misalkan kita bermimpi meraih hal yang selama ini dicita-citakan. Begitu indah dan senangnya hati ini saat bermimpi. Ketika terbangun, "Wah, ternyata hanya mimpi", sesal hati. Berbagai bentuk sensasi, perasaan yang dialami saat bermimpi mungkin berubah jadi perasaan sedih atau sebaliknya senang, bergantung pada mimpi.

Dari sisi waktu, satuan yang dialami dalam mimpi secara umum lebih kecil dari satuan waktu diluar mimpi. Misal, dimimpi kita mengalami hal yang seakan sudah berlangsung berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Ketika bangun dari mimpi, sadarlah kita bahwa waktu yang dihabiskan saat tidur hanya sekian menit, sekian jam dst. Kalaupun ada yang mengalami hal sebaliknya, sepertinya itu adalah kasus khusus seperti halnya pemuda alkahfi yang merasa baru tidur hanya beberapa saat di dalam gua, padahal dalam satuan waktu diluar mimpi sudah mencapai ratusan tahun.

Katakanlah rata-rata usia manusia saat ini 70 tahun. Lamakah? Misal, jumlah waktu sebelum kita lahir (saat dimana kita belum bisa disebut apa-apa) sama dengan n tahun dan jumlah waktu dari kita mati sampai seterusnya adalah tak terhingga. Maka jika dibandingkan lama hidup kita di dunia dengan jumlah waktu sebelum dan setelah kita hidup di dunia (mengulang lagi pelajaran matematika jaman SMA dulu...hihi) lebih kurang 70 dibagi (n + tak hingga) dan hasilnya sudah tahu semualah insyaAllah, yakni merupakan suatu bilangan yang mendekati nol. Nah, kalo sekarang gimana, lamakah?

Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari [QS 79:46]

Mari sejenak memikirkan perumpamaan dari Ust. Jumharuddin Lc. berikut, "Seseorang yang dalam hidupnya menjalani begitu banyak ujian, cobaan yang dirasakan terus menerus atau seperti tak kunjung henti. Dengan kesabaran dan keimanan, orang tersebut tetap bertahan sehingga dengan rahmat Allah meninggal dalam husnul khotimah dan pada akhirnya dirasakan padanya nikmat surga yang begitu besarnya, lalu apakah orang tersebut akan menyesal dengan bebannya selama di dunia? Kemudian bayangkan orang yang selama di dunia memperoleh segala apa yang diimpikan banyak orang, harta yang melimpah, kekuasaan, keluarga dan sebagainya. Tapi sayangnya orang tersebut hidup dalam kekufuran, penuh dosa, maksiat serta tak kunjung bertobat sampai ajal menjemput. Dan di akhirat -dicelupkan- dalam siksaan api neraka, apakah kenikmatan dunia masih ada bekasnya? Dan alangkah lebih merugi lagi orang yang selama hidup di dunia, miskin jiwa miskin harta, keluarga berantakan, hidup terhina tapi sombong, penuh dosa dan maksiat dan bahkan kufur dan sebagainya, dan tak betobat pula, kemudian di akhirat nanti dirasakan pula azab neraka." Naudzubillahi mindzalik.

Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri [QS 75: 13-14]

Lalu jika hidup layaknya mimpi, bedanya dengan mimpi umumnya di dunia adalah hal yang dilakukan saat bermimpi sangat menentukan apa yang didapatkan ketika bangun. Dan terbangunnya adalah saat maut telah menjemput, saat diri dihadapkan pada balasan-balasan yang dijanjikan, saat sesal tiada berguna lagi. Ada yang berbahagia, ada yang merana.

Itulah, diri ini sering kali lupa, tertipu, lalai terhadap mati yang pasti, terhadap konsekuensi pasti yang akan dialami berdasarkan apa-apa yang telah dilakukan selama hidup. "Sst, kamu pasti mati lho. Ayooo, mau dibawa kemana setelah mati, dimasukkan ke surga atau dicelup ke neraka?".

"Apa yang akan sampaikan jika beberapa saat lagi kamu akan mati?" Kira-kira begitu bunyi pertanyaan yang harus dijawab masing-masing peserta di akhir-akhir pelatihan. (Jawab masing-masing saja yah!)

Kalau dipikir-pikir kayaknya orang-orang yang umurnya sudah di vonis dokter, katakanlah sekian bulan lagi, sekian tahun lagi (walaupun hanya perkiraan dan tak ada jaminan ketepatannya) di sisi lain mungkin bisa dikatakan "beruntung". Mungkin itu bentuk kasih sayang Allah yang begitu besar pada hamba-Nya, sehingga "dia yang divonis" diharapkan menjadi lebih baik persiapannya saat "pulang kampung". Anyway, divonis atau nggak, mati tetap pasti, semoga kematian husnul khotimah lah yang didapat. Aamiin.

Wallahu a`lam bishshowab.

***

Alhamdulillaahirobbil'aalamiin. Jazzakumullah khoiran katsiro atas kepercayaan yang telah diberikan kepada saya dan Akh Yanuar Tirta Kusuma -- untuk mewakili pengurus MTXL dalam mengikuti training ini -- oleh pengurus MTXL umumnya dan terkhusus Kang Dody Setiawan, Kang Redi Rindayadi Ahmad, Pak Nashruddin Ismail, Mbak Cindy Hanidya Rahayu. Dan mohon maaf yang sebesar-besarnya jika sharing pengalaman dan ceritanya jauh dari harapan. Memang harus merasakan sendiri kayaknya :)

Semoga bisa sebanyak mungkin orang dapat terlibat langsung dalam pelatihan ini, insyaAllah sangat bermanfaat.

0 comments: