Jumat, 06 Januari 2012

Riyadh, baru seminggu...

Riyadh adalah kota pertama di luar Indonesia yang kukunjungi. Dulu sempat mau jadi ke kota lain, sampai visa udah kelar juga, tapi karena satu lain hal perjalanannya gak jadi. Balik ke Riyadh, ibukotanya Kerajaan Arab Saudi (semua orang juga tahu kali :D), kesan pertamanya: Dingin! Ya datangnya memang pas lagi musim dingin.

Keluar dari pesawat, pemeriksaan imigrasi (ini bisa jadi cerita sendiri..), ambil bagasi. Alhamdulillah akhirnya bisa juga keluar dari bandara dengan lancar dan gak ribet. Sampainya malam waktu Riyadh,
dijemput oleh team Leader tempat bekerja (Mohamed Mahmoud Radwan, orang Mesir) dan diantar lihat-lihat alternatif apartemen yang bisa kutempati nanti selama di Riyadh. Akhirnya malam pertama nginap di apartemen mas Wildan Fakhri, senior yang juga kerja di Riyadh.

Sekarang lebih kurang sudah seminggu di Riyadh, ingin bercerita panjang kali lebar pangkat tinggi. Mari dimulai dari blog ini.

Perhatian dalam pengalaman yang masih baru sebentar di sini tertuju pada jalanan, mobil, rumah, dan makanan. Pengendara mobil di Riyadh betul-betul termanjakan sepertinya. Jalanan yang lebar-lebar dan mulus, bahkan jalan dalam kompleks perumahan pun lebarnya bisa dimuati empat mobil (bisa lebih). Jalanan OK, bagaimana dengan kendaraan yang lalu lalang di atasnya? Mmmh, setali tiga uang (eh ada yang tahu asal pepatah ini dari daerah mana???!). Mobil-mobil keren, dan banyak diantaranya juga belum pernah kulihat di Indonesia menjadi pemandangan biasa di sini. Kesan awal, pantas saja orang disini kan kaya-kaya???! Menurut teman ku, tidak juga sebenarnya, salah satu faktor kenapa gampangnya menemukan mobil-mobil mewah banyak sekali berseliweran di jalanan kayak mainan adalah, karena memang negara Kerajaan Arab Saudi menetapkan aturan bebas pajak. Jadilah, harga mobil yang jika di Indonesia mahal gak karuan, di sini jauh lebih miring.

Sekarang jalanan OK, mobil OK! Satu hal yang membuatku harus waspada setiap saat adalah jalan kaki, terutama saat menyeberang jalan. (Hehe,,,maklum yang sehari-hari P3K, pejalan kaki ke kantor). Berdasarkan pengalaman, situasi di sini belum begitu bersahabat bagi pejalan kaki. Pengendara membawa laju mobil seperti balapan. Sulit untuk membuat kondisi, kita melambaikan tangan terus kemudian pengendara mempersilahkan kita menyeberang jalan. Serius sangat sulit! Yang ada kita harus bersabar menunggu mobil lewat, kira-kira sampai sudah benar-benar aman (kalaupun ada mobil, jaraknya jauh), baru berani menyeberang jalan.

Rumah! Sepanjang perjalanan dari bandara sampai ke apartemen, kemudian pulang balik apartemen-kantor, masjid, jalan-jalan dibawa teman, kalau menemui rumah, ciri utamanya adalah pagarnya tinggi, sangat tertutup! (Kalau parkir mobil kebanyakan di jalan depan rumah saja, jarang yang di garasi, pertama barangkali kondisi lingkungan relatif aman, kedua mobil mereka juga banyak jadi gak muat garasi-- eits ini hanya tebakan ku saja lho.) Kembali lagi ke Rumah yang super tertutup, hal ini sempat ditanyakan ke Mohamed. Dan jawabannya adalah karena orang di sini sangat menjaga privasi mereka. Ooo begitu ya.

Terakhir terkait makanan. Tulisan ini tidak akan bercerita tentang jenis, ragam, resep, bumbu makanan, tapi lebih tepatnya porsi makanan. Beuh,,,,, rata-rata porsinya ampun-ampunan. Beli nasi pakai ayam, jangan terlalu berharap ketemu satu potong paha/satu potong dada berikut sepiring nasi. Yang ada setengah ekor ayam plus nasi satu cambung. Ayamnya gede-gede pula. Tidak,,, tidak,,, itu bukan buat berempat tapi satu orang. Pikirku, "wah sayang banget kalau makan langsung di tempat". Beberapa kali makan bareng teman-teman Indonesia di sini saat makan siang, memang rata-rata kami tidak bisa menghabiskan. Pantas juga ya, orang Arab badannya gede-gede :) Sehingga taktik ku adalah kalau hari libur weekend (disini Kamis, Jumat liburnya) makannya dibungkus saja, disamping gak mubazir, lumayan juga buat penghematan. Jadi, bisa buat 2-3 kali makan. Kata teman, dia malah bisa sampai 4 kali makan tapi belum habis juga (tergantung orangnya hihi).

Ok deh segitu dulu ceritanya, kapan-kapan insyaAllah disambung lagi. Mohon didoakan juga, disamping mencari rezeki, semoga bisa bertambah pengalaman, ilmu yang berharga yang bermanfaat. Dan yang terpenting senantiasa bisa berusaha meluruskan niat berharap ridha Allah. Senantiasa dalam lindungan Allah. Lagi pula tujuan tempat utama yang sangat ingin dikunjungi belum terwujud :)

Bismillaah, rabbisy rahli shadrii wa yassirlii amrii wahlul 'uqdatam millisaani yafqahuu qauli

4 comments:

Anonim mengatakan...

Bagasi?? Garasi kaliii :))
Pa kabar ilden? Betah nih kayanya.

Ilden Abi Neri mengatakan...

thanks koreksinya. update done.

Fathelvi Mudaris mengatakan...

assalaamu'alaykum Da Ilden..
baa kabar Da?
waah, masya Allah, lah di Riyadh uda kn yah?
barokallaahu Da...

Semoga sukses yah Da...
boleh di link kan blog ny kan Da..^^

_Fathel_
(generasi VI Asrama, Smansa Papa_

Ilden Abi Neri mengatakan...

@fathel, alhamdulillah kaba elok. fathelvi baa, sibuk/karajo dima kini? tarimo kasih doanyo yo. sip buliah bana. baru nyadar ado komentar fathelvi..he