> | | > Sekolah Indonesia Riyadh (SIR): Selayang Pandang

Sekolah Indonesia Riyadh (SIR): Selayang Pandang

Posted on Wednesday, 27 February 2013 | No Comments


Bicara terkait kondisi pendidikan Indonesia, cakupannya luas sekali dan banyak yang harus dibahas. Salah satunya, pendidikan bagi masyarakat Indonesia di luar negeri. Ada banyak diaspora Indonesia, bisa untuk bekerja, sekolah, dan hal lainnya. Dan tidak sedikit juga yang membawa istri dan anak-anaknya. Kebutuhan yang lumrah bagi mereka ini terutama yang membawa serta anak-anak adalah ketersediaan pendidikan bagi anak-anak. Khusus untuk masyarakat Indonesia di Riyadh, terdapat satu sekolah Indonesia dengan nama SIR-Sekolah Indonesia Riyadh. Berikut sedikit catatan selayang pandang saya terkait SIR, sebagai orang baru yang mengamati dan melihat SIR dari luar (karena memang belum terlibat langsung).


Beberapa kali terkadang dalam pikiran sendiri saya sering bertanya-tanya, kenapa jika dibandingkan dengan negara lain, misalkan Sekolah Filipina, atau Sekolah India, sepertinya Indonesia terlihat tertinggal sekali terutama dari segi infrastruktur gedung sekolah. Sebagai sesama negara yang termasuk memiliki jumlah warga negara yang cukup banyak di kota Riyadh ini, menurut hemat saya, sudah sepantasnya juga Indonesia memiliki sekolah seperti negara itu. Saya sudah cukup sering ke SIR, dan kondisinya di sana adalah SD, SMP, SMA berada pada satu gedung yang tergolong kecil jika dibandingkan punya negara lain. Apakah memang sedikit muridnya?

Dari segi kualitas, saya tidak tahu pasti, dari rekan-rekan yang saya kenal, tidak sedikit yang menyekolahkan anaknya di SIR, dan banyak juga yang lebih memilih sekolah internasional atau sekolah lokal Arab Saudi. Dari yang saya ketahui, SIR dari sisi biaya lebih murah, dan diantara pertimbangan juga mungkin kenapa rekan-rekan memilih SIR: terutama kurikulum yang sama dengan Indonesia, jadi kalau melanjutkan pendidikan nanti di Indonesia tidak terlalu susah dan lingkungan yang sesama Indonesia bisa juga merupakan faktor berikutnya. Yang bisa tampak kasat mata bagi saya, adalah jumlah guru. Sempat saya menyaksikan list guru yang ada di SIR, kondisinya dari sisi kuantitas memang sedikit, satu guru merangkap untuk beberapa mata pelajaran sekaligus.

Dan cukup terjawab sudah malam tadi, melalui salah seorang "petinggi" dari kedutaan yang saya berkesempatan mendengarkan kajiannya, memang ada kendala dalam pengembangan sekolah-sekolah Indonesia di luar negeri, termasuk Riyadh ini. Key nya adalah koordinasi yang "lemah" antara departemen-departemen pemerintahan terkait, terutama departemen pendidikan dan departemen luar negeri. Sangat disayangkan memang. Salah satu informasi yang menyedihkan, sebenarnya sudah tahunan ada upaya untuk mencarikan tempat baru bagi SIR ini, tapi selalu kandas dengan beberapa faktor (apakah itu dana atau birokrasi baik Indonesia sendiri maupun dengan pemerintah lokal). Disebutkan juga, murid tidak sedikit lagi, bertambah terus. Gedung SIR sendiri tak hanya dipakai bagi kegiatan pendidikan saja, berbagai macam kegiatan masyarakat Indonesia sering menggunakan fasilitas SIR ini. Jadi, kebutuhan akan sarana gedung sekolah yang lebih "pas" cukup penting untuk segera dipenuhi.

Gedung memang bukan satu-satunya dan segala-galanya. Tak dilupakan ketersediaan guru yang cukup. Semakin banyak nya murid, otomatis kebutuhan akan guru juga bertambah. Ada hal yang cukup menarik, terlibatnya mahasiswa sebagai guru di SIR ini. Jumlah mahasiswa Indonesia di Riyadh khususnya juga tidak sedikit, ada puluhan yang saya ketahui. Ini tentunya potensi yang bisa jadi salah satu solusi bagi ketersediaan guru. Sudah saya ketahui sendiri, salah seorang teman yang menjadi mahasiswa di sini, ikut membantu sebagai guru, dan feedback yang didapat dari murid dan wali murid juga positif, sampai ada yang mengatakan anaknya senang belajar dengan teman saya ini. Kalau di optimalkan simbiosis mutualisme sangat mungkin terwujud, mahasiswa bisa memperoleh tambahan pemasukan (sekaligus merealisasikan idealisme yang saya yakin sebagian besar mereka memiliki itu terutama untuk kemajuan pendidikan Indonesia), dan kedutaan bagian pendidikan ataupun SIR bisa terbantu untuk menjadikan proses belajar yang lebih baik dengan adanya tambahan guru. Satu hal lagi yang terpikir adalah memanfaatkan potensi para istri pekerja profesional di Riyadh. Sebagian besar yang saya ketahui istri-istri yang di undang ke Riyadh oleh suaminya, tidak memiliki pekerjaan luar rumah, bagi mereka yang memang memiliki potensi, kesempatan, kelonggaran, kenapa tidak? Saya yakin sekali banyak diantara Ibu-ibu tersebut yang sangat mumpuni menjadi guru. Tapi teknisnya, persis nya saya juga belum mengetahui apakah diperbolehkan atau ada prosedur tertentu. Untuk kegiatan ekskul, saya lihat juga ada partisipasi dari kalangan Bapak-bapak terutama di luar jam kerja, ini sangat positif sekali, salah satu contohnya yang saya lihat adalah inisiatif untuk kegiatan bidang robot dan astronomi.

Sejatinya semua kalangan masyarakat Indonesia di Riyadh menginginkan SIR terus membaik, kabar baiknya dari "petinggi" yang disebutkan di atas, dalam waktu dekat akan ada gedung baru yang lebih "layak" (luas dan baik tentunya) untuk mengganti SIR yang sekarang. Semoga lekas terwujud, sekaligus paralel nantinya dengan perbaikan-perbaikan yang lain. Jangan sampai tertinggal (apalagi kalau terlalu jauh) baik itu dengan sekolah negeri setara di Indonesia atau pun sekolah-sekolah lokal dan international yang ada. Berikutnya dengan sendirinya mayoritas masyarakat Indonesia di sini akan semakin banyak yang memilih sekolah Indonesia daripada sekolah-sekolah lainnya. Dan yang tak kalah pentingnya, jangan sampai ada lagi kendala dari internal pemerintah sendiri, seperti kurangnya koordinasi. Maju terus untuk SIR!

Powered by Blogger.